Pembohong

Pengantar Rantang

Bagian I

Inilah kehidupan bukan di ibu kota, tetapi tetangganya ibu kota. Yap, Bandung adalah kota kreatif. Itu sih kata orang yang sudah lama tinggal disini. Kenapa harus Bandung tempat persinggahan? Uops… bukan singgahan, melainkan menuntun ilmu disini.

Sayangnya ilmu gue pas-passan sekali. Mau masuk ke universitas negri aja gue otak engga mampu. Apalagi masuk kedalam sebuah institut ternama.  Malas adalah kunci ketidakberhasilan (jangan ditiru).

Ha ha ha…

Lucu memang kalo diingat masa SMA. Banyak sekali rencana yang ingin dilakukan setelah lulus. Eh, malah perubahan rencana itu harus dilakukan diwaktu yang tidak diinginkan.

Kenalin. Nama gue Budi. Anak rantauan asal Medan. Mungkin kalian akan bertanya-tanya seperti lagunya Bimbo “Ada anak bertanya pada bapaknya… bla… bla…” Sorry, gue lupa lirik selanjutnya jadi gue tulis aja ‘bla’.

Gue udah ngetes SPMB tiga kali dan tiga-tiganya engga membuat gue menjadi terkenal karena nama kampus atau institut negri sudah tidak asing lagi di telingga kebanyakan orang tua di kampung gue.

Eits, kampung? Gue engga punya kampung karena gue asli orang Semarang. Mengapa jadi curhat. Gue kan mau cerita disini.

Gue adalah salah satu dari beberapa mahasiswa yang masih bertahan di kampus swasta ini. Gue telat lulus kuliah bukan karena banyak kerjaan atau doyan main. Lo salah men.

Gue kuliah buat senang-senang. Senang mencari ilmunya. Karena kelemahan gue sangat terlihat jelas. Yaa.. jelas malasnya. Jadi, ya harus menanggung resikonya. Pahamin itu. Kata itunya pake gayanya pak Mario Teguh.

Dan inilah kisah gue bersama dirinya yang belum terbilang menakjubkan.

Beberapa hari ini gue selalu menyempatkan diri melewati suatu ruangan. Ruangannya tidak khusus. Ruangan dimana mahasiswa lain juga bisa melewati dengan cuma-cuma. Ada alasan dong kenapa gue sering melewati ruangan misterius tersebut. Yap, ruangan tersebut ternyata khusus untuk mahasiswa yang hobi taekwondo.

Ada apakah disana? Timbullah sebuah pernyataan. Kenapa harus timbul suatu pertanyaan. Kan gue yang cerita. Gue yang tau pastinya.

Yap, gue melihat sosok wanita yang membuat gue harus memuter-balikan kepala semaksimal mungkin hanya untuk melihat sosok makhluk tuhan paling sexy versi Budi. Sedikit lebay bukan. Harus. Namanya juga sedang dilanda penasaran meng-gebu-gebu dengan sosok wanita yang menggunakan sabuk merah di pinggangnya.

Beginilah sosok wanita tersebut apa yang dipandang kedua mata gue. Tinggi, mungkin saja lebih tinggi dari gue. Itulah wanita. Ningginya bisa nipu kaum adam dan sekitarnya. Kulitnya bisa dibilang putih kalau dibandingkan dengan cat dinding kampus. Beugh, putihan cat dinding kampuslah.

Masa dia putihnya ampe segitunya. Takut juga kalau mau dekatin. Alis tebal. Mata biasa aja sih. Pipinya terlihat bulat, tapi tidak seperti lagu lama ya.

“Apaan Roe?”

“Bakso bulat seperti bola pimpong… la..la..la..la” lupa gue lanjutannya. Eh, Bil. Kenapa lo ngomong waktu gue cerita. Lo buat orang menjadi bingung aja nih. Ah, kacau lo Bil.

“Ada yang salah memangnya?”

“Banyaklah.”

“Lah, bukannya lo lagi storytelling sekarang. Ya kalo ada sekilas info yang lewat wajar-wajar aja.”

“Oke. Gue mau lanjutin lagi ini ceritanya. Lo diam dulu disana.”

“Iyee.”

Sebenarnya gue paling malas untuk mengatakannya. Kata ini bisa membuat wanita menjadi malu-malu mau atau bisa menjadi sedikit meningkatkan emosinya.

Akhirnya momen tersebut datang juga.

Sosok wanita berambut setengah panjang sedang melakukan gerakan entah apa itu namanya dan wanita itu melakukannya secara berulang-ulang. Akhirnya gue memutuskan untuk duduk dan melihatnya.

Beberapa jam kemudian.

Latihan selesai wanita ini bergegas pulang. Sayangnya di hari pertama melihat wanita tersebut gue engga mampu untuk berkenalan.

Hari harus berganti. Sudah seminggu melihat wanita ini, tapi tak kunjung berkenalan. Gue terus berfikir gimana caranya bisa berkenalan dengan wanita terebut. Sudah ada beberapa cara yang dipikirkan. Dari cara ekstrim sampai cara tak percaya diri dengan kemampuan.

Cara ekstrim: gue duduk tepat disamping tasnya. Ketika wanita tersebut selesai latihan gue dengan sigap mengambil handuk kecil yang kemudian gue kasih kepada wanita tersebut.

“Ini handuknya. Hai. Nama gue Budi.” Lo harus tau apa reakasi wanita tersebut?

Wanita ini melotot sejadinya lalu tangan gue dipegang kemudian ia melakukan suatu gerakan. Bisa dibilang teknik mengunci. Pasti ia sudah banyak berlatih selama ini bagaimana menghapi pria kurang ajar dan gue adalah korban pertama dari ilmu bela dirinya itu.

Gagal berkenalan dan gue harus berujung ke tempat pertolongan pertama pada kecelakaan.

Kali ini gue menggunakan cara kedua. Cara kedua yang gue gunakan adalah cara ‘apalah’ namanya. Beginilah reka ulang kejadiannya. Gue langsung berkenalan setelah wanita tersebut akan memulai latihan.

“Hai, kamu mau ngapain nih pake baju beginian?” tanya gue dengan pertanyaan super basi.

“Mau ngaji. YA LATIHAN TAEKWONDOLAH. Minggir lo.” Jawabnya.

Budi-pun menjadi anak malang di ruangan tersebut. Pantesan gue lama banget lulusnya. Gue lebih mementingkan nafsu daripada menggunakan strategi apa dan bagaimana untuk bisa menahklukkan hati wanita.

Gue engga akan kehabisan ide untuk bisa berkenal dengannya.

“Sebenarnya gampang saja Roe kalo cuma pengen tau namanya doang. Tinggal si Budi tanya sama orang yang ada disampingnya.” Ini Suara Nabil muncul tiba-tiba.

Bener sih. Cuma dia pengen biar wanita ini bisa selalu ingat dengannya. Tak terduga adegan inipun terjadi. Budi yang notabennya selalu membawa rantang tak sengaja melihat wanita itu sedang berjalan sendiri menuju ke tempat latihan taekwondo. Langsung saja gue memberanikan diri menghampirinya.

“Hai, ini kartu nama saya sekaligus jasa pelayanan rantang-merantang. Saat ini rantang kami sedang ada promo lho.”

Wanita ini terus berjalan tanpa mempedulikan gue. Gue engga menyerah begitu saja walau dicuekin. Mau engga mau gue harus mengimbangin jalan cepatnya.

“Mbak, ini diterima dong kartu nama saya.” Budi masih menggunakan bahasa antara penjual dan pembeli.

Akhirnya wanita itu mengambil kartu nama yang gue tawarkan sebelumnya.

“Mbak, saya boleh tau namanya engga?”

Wanita ini berhenti dari jalan cepatnya dan gue sedikit melewatinya akibat berhenti dadakan dengan perkataan gue tadi.

“Buat apaan lo nanya nama gue?” Tanyanya dengan gaya cool.

“Buat apaan ya? Oh, iya buat saya data sebagai calon rantangan mbak.” Gue mulai melakukan aksi akting sambil menunjuk rantang.

“Eh, lo yang suka ikutin gue itu ya. Oh, jadi lo pengantar rantang.”

“Iya mbak.”

“Mau gue kunci lagi tangan lo kayak beberapa hari yang lalu?”

“Jangankan di kunci. Sekalian aja hati saya juga digembok mbak.”

Badan wanita ini condong kedepan dengan sedikit mengayunkan tangannya “Apa lo bilang tadi?”

“Engga, engga. Kan saya sekarang nanyanya baik-baik. Jadi gimana, saya boleh kan kenalan sama mbak?”

Budi menaruh rantang di bawah dan ia menjulurkan tangan untuk ngajak salaman. Sedikit lama sih, dan akhirnya wanita ini-pun membalas menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan gue.

“Gue Tantri.” Jawabnya dengan singkat sambil melepaskan salamannya.

“Saya Budi.” Sambil mengeluarkan senyum andalan. Sayangnya, senyum gue engga dibalas Tantri.

“Gue udah tau nama lo Budi. Barusan kan lo kasih kartu nama ke gue.”

“Oh, iya.” Gue mulai kebingungan karena Tantri jawab dengan irama datar.

Sangking senangnya akhirnya  gue sampai lupa diri.

“Tan, gue boleh minta pin BB lo?” Gue mulai merubah cara bicara menggunakan kata ’gue’ yang sebelumnya memakai ‘saya’. Biar ngerasa dekat aja.

“Apa? Sini lo.”

“Kan gue minta pin. Kok malah disuruh mendekat.” Gue-pun engga pikir panjang karena masih dalam perasaan senang. Kalo panjang pikirannya bukan Budi namanya, tapi Seteip [Ini nama orang. Kalau di barat namanya Steve]. Tantri mulai mendekati wajah gue. Gue hanya bisa pasrah menutup kedua mata.

Kemudian Tantri langsung membisikan beberapa kata ke telingga gue.

“Baru kenal gue lo Bud?” membisik dengan volume suara tujuh persen.

“Hah?”

Tangan kanan Tantri mulai mengayunkan pukulan kecil namun cepat geraknya ke perut gue. Sebut saja jab kecil.

“ADDOWW.” Gue langsung megang perut dan dengan cepat mundur beberapa langkah di depannya.

Tidak lama kemudian Tantri meninggalkan gue begitu saja tanpa wajah berdosa sama sekali.

“Awas lo Tan. Tunggu pembalasan gue.” Ini juga gue ngomongnya dengan nada suara rendah.

“Apa lo bilang barusan?” Tantri langsung berbalik arah.

“Hari pembalasan.” Jawab gue dengan posisi badan dimonyongin.

“Gue terima pembalasannya.” Tantri coba balik nantangin gue.

“Pembalasan di akhirat maksudnya.” Seenak-bodong ngejawab.

“Hah?” Tantri mencoba menahan senyum dan akhirnya senyum Tantri menjadi sebuah tawa.

“Loh kok lo ketawa sih. Kan memang bener. Mana mungkin gue bisa sanggup lawan lo yang doyannya main taekwondo.” Ini sih gue sedang mencoba  menjadi manusia lemah-selemahnya manusia berpuasa 30 hari menahan godaan dari makan dan minum serta godaan hawa nafsu.

“Nyambungnya dimana Roe? Puasa dibawa-bawa segala.”

“Sambungin aja Bil.”

“Yaudah, gue tunggunya di akhirat aja.” Lanjut gue dengan sigap.

“Yaudah gue minta maaf.” Ternyata Tantri takut dengan pelajaran bernuansa relegi.

“Heh, Lo kan kuat. kenapa minta maaf ke gue sekarang?” Nada bicara sedikit berat dan disana gue merasakan kemenangan.

“Gue paling takut kalo bicara berbau-bau agama.” Dan keluarlah sisi wanitanya disini.

“Lucu juga lo ternyata. Iya~ udah gue maafin.” Hati gue mulai berselebrasi di dalam. Ibarat mencetak gol penetuan yang mengantar Indonesia menjuari piala Asia dua ribu berapalah.

“Gue cabut duluan ya.” Suara Tantri kembali datar.

“Bareng aja kalo gitu.” Ini suara gue mupeng.

“Lo mau latihan taekwondo juga?”

“Engga.”

“Terus lo ngapain disana?”

“Jadi pemandu sorak doang disana.” Otak miring gue mulai keluar.

“Haha. Terserah lo ajalah.” Sambil melanjutkan langkah cepatnya.

Bersambung…

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s