Pembohong, SSEEMPAK

Dibalik Penulisan Pengantar Rantang

Hari demi hari belum ada perubahan sama sekali. Masih belum mendapatkan ide dan semakin hari semakin pusing dunia mahasiswa. Kurang pas rasanya kalau sudah jadi mahasiswa engga mendegarkan lagu The Panas Dalam. Liar abis men liriknya.

Muncullah sang pengganggu “Eh, Roe lagi ngapain lo?”

“Kapan lo datanganya Bil?”

“Barusan. Pas lo keluar kamar mandi gue udah datang. Terus gue kebawah bentar jajan. Pintu kamar kenapa engga lo kunci?”

“Oo.. gue tadi cuci tangan bukan ke kamar mandi Bil. Baru selesai makan ini.”

“Terus lo lagi ngerjain apaan tuh?”

“Engga ada, gue lagi baca cerita Bil. Soalnya gue lagi ditantang untuk membuat cerita yang engga kalah dengan drama Korea.”

“Jiah, bukannya gampang itu. Lo kan suka nonton drama Korea sama dorama Jepang. Setidaknya lo udah adalah sedikit referensinya.”

“Iya sih. Namanya tantangan engga ada yang gampang Bil. Harus ada sisi emosional di dalam ceritanya. Nah, sedangkan gue harus bercerita minimal itu seribu kata.”

“Cerita pendek dong.”

“Bisa dibilang begitu sih.”

“Gue ada ide nih. Gimana kalo lo buat ceritanya itu ada chapternya. Nah, biar terlihat lebih seru.”

“Hahaha. Benar juga lo Bil. Kita banyak banget ide ya, tapi selama ini engga ada yang dijalanin dengan benar. Selalu melanggar aturan yang berlaku.”

“Itu karena lo engga konsisten. Makanya jangan mengerjakan suatu perkerjaan itu dengan setengah-setengah. Jadi, lo dipujinya juga setengah-setengah nantinya.”

“Abis darimana lo Bil, bisa ngomong begitu cerdas?”

“Mana weh-lah. Dapat di jalan itu  juga kata-katanya. Udah, jadi mau nulis cerita engga lo?”

“Jadi. Mari kita lakukan bersama Bil.”

“Siap.”

“Karakter utama namanya Budi.”

“Lha kok Budi.”

“Biar cepat aja Bil. Lagian itu nama Indonesia banget kan. Masa sih kita mau contek mentah-mentah negara orang lain?”

“Bener juga lo Roe.”

“Budi adalah seorang anak rantau yang sedang menuntut ilmu di kota Bandung.”

“Rantauan mana dia?”

“Medan.”

“Jiah, Medan kenapa namanya Budi. Ucoklah.”

“Ya dia di Medan juga merantau gara-gara orang tuanya.”

“Oo..”

“Awalannya gimana ya Bil buat cerita. Bingung gue. Belum ada inspirasi. “

“Udah nulis aja dulu apa aja yang di dalam pikiran lo. Entar gue ikut mikir lagi buat ngerombak agar lebih padat merayap lagi.”

Kemudian pembembicaraan berhentilah sampai disini tanpa ada sambungan apapun.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s