Feature

Joko Widodo

Masa Kecil gue engga terlalu berat seperti film JOKOWI. Itu terlalu keren masa kecilnya pak Joko buat gue. Masa kecil gue datar. Gue dilahirkan untuk bermain tanpa banyak belajar arti kehidupan. Karena orang tua gue terlalu baik sama ketiga anaknya. Mereka engga mau melihat anaknya susah. Apalagi terhalang pendidikannya. Karena dengan adanya pendidikan kita dapat merubah masa depan kita.

Film ini terbilang bagus. Sangat cocok untuk anak-anak mengenal pentingnya kejujuran di usia dini. Engga bisa disogok dengan uang ataupun dengan yang lainnya. Beda dengan keadaan sekarang. Banyak kutipan penyemangat di film ini. Salah satunya adalah “Kita boleh terlahir sebagai orang miskin, tapi kita tidak boleh mati dalam keadaan miskin.” Katanya suatu penghinaan untuk orang yang matinya dalam keadaan miskin.

Gue baru mengenal pak Jokowi sejak menjabat sebagai gubernur Jakarta. Dua minggu sebelumnya gue sering main ke kosan teman. Sebut saja namanya Adit. Anak ini asli Subang, Jawa Barat. Ada satu partisi hardisk-nya bernama Jokowi. Gue penasaran. Langsung gue buka. Eh, isinya semua berita mengenai pak Jokowi. Geleng-geleng kepala secara spontan-pun dimulai. Adalah sekitar 20Gb lebih data yang tersimpan di sana.

Akhirnya gue memutuskan untuk minta sama Adit film Jokowi. Beugh, langsung deh dia banyak cerita ini-itu dalam film tersebut. Padahal gue sendiri belum nonton. Gue takut spoiler pas dia menceritakannya.

Film ini berlatarkan keadaan Surakarta di tahun 1961. Waduh, bokap gue aja baru lahirnya 1963. Bener engga tu ya. Ya sekitar segitulah. Atau jangan-jangan kelahiran 61 juga sama kayak pak Jokowi.

Gue suka banget dengan latar kehidupan jaman dulu. Udaranya segar. Pakaiannya engga terlalu mewah. Satu hal yang paling gue sukai film ini adalah medok jawanya kental banget.

Itu yang membuat gue menjadi iri. Punya karakter dialek daerah tanah kelahiran. Lha gue apa. Numpang lahir di aceh, tapi dialeknya sedikit medan. Kadang aceh dikit. Bahasa daerah juga engga ada yang fasih.

“Kenapa jadi curhat kelaharian lo disini?”

“Ya sekalian Bil. Bonus.”

“Bonus darimana?”

“Sempak~”

Hah, gue harus kasih tau siapa aja pemain disana. Okeh. Joko diperanin sama Teuku Rifnu Wikana. Iriana diperanin sama Prisia Nasution.

“Bah, datar banget lo ngasih taunya.”

“Datar gimana?”

“Lo kasih taunya kayak yang lainnya juga dong. Sambil lo ceritain lo buat dalam kurung nama pemerannya.”

“Hoo itu. Bisalah kita atur nantinya.”

Balik lagi ke film JOKOWI. Walaupun dulu kehidupan keluarga gue terbilang cukup, tapi keluarga gue Alhamdulillah sampai sekarang masih bahagia. Sidikit engga nyambung.

Masa kecil gue dulunya… hmm.. seingatnya saja ya. Kan masih kecil, belum tau apa-apa.

“Iyo. Kenapa masa kecilmu?”

“Lho kenapa mendadak jadi kemayu tenan iki Bahasane Bil?”

“Lha, kan aku baru selesai nonton Jokowi juga samamu le.”

“Ya enda perlu medok Jawanya keluar toh. Biasa saja.”

“Ngge. Wes. Lanjut lagi ceritamu le.”

Ada banyak perkataan keren di film ini. Gue tulis disini. Ya engga semuanya. Selebihnya nonton sendiri.

Jangan membuat janji kalau kamu tidak bisa menepati.

Ah, ini kalimat klasik abis. Banyak sekali manusia sekarang mengumbar janji demi popularitas. Janji itu utang. Utang itu harus dibayar. Kalau sampai utang engga dibayar ya siap-siap aja lo nyari tu orang yang lo utangi di akhirat nanti.

“Emangnya pas di akhirat nanti kita bakalan nyari orang yang pernah kita utangin?”

“Ya gue mana tau. Ini kata emak gue. Mungkin istilahnya seperti itu. Kalau sampai kejadian. Beugh, bakalan bisa mati di tengah jalan nyari tu orang.”

“Kenapa bisa mati di tengah jalan?”

“Sambil disiksa, sambil nyari itu orang. Belum tentu dikasih minum disana. Seram dah kalau gue ngebayangin lebih lanjut lagi.” Gue melihat jelas Nabil langsung menelan ludahnya.

Sekolah jelek, harus tetap jadi orang pintar.

Sekolah jelek bukanlah alasan untuk menjadi malas-malasan belajar dan pergi ke sekolah ataupun merasa malu dengan teman lainnya yang sekolahnya terkenal. Dimanapun sekolahnya hanya kemauan yang menuntun lo menjadi orang yang banyak manfaat untuk orang lain.

“Maksudnya?”

Maksudnya adalah ketika sudah memiliki banyak ilmu. Secara tidak langusng lo akan menjadi pintar. Ketika lo menjadi pintar. Tingat percaya diri lo bakalan bertambah. Nah, disinilah lo bakal diuji. Apakah ilmu yang sudah dipelajari akan membawa ke jalan yang lurus atau ke jalan gelap.

“Jalan gelap?”

“Jalan gelap disini adalah jalan dimana lo akan berada di suatu daerah terpecil yang belum masuk aliran listrik.”

“Sempak kuda. Yang bener aja lo.”

Sekolahlah. Karena itu sangat penting untuk masa depan.

Anakmu itu…

Semenjak gue tumbuh meninggi. Walau tinggi ini engga ideal untuk menjadi artis korea. Gue tetap bersyukur. Setidaknya gue engga kalah tinggi dengan anak-anak SD. Kenapa jadi bahas tinggi badan?

Mungkin maksudnya adalah kalau anaknya pintar pasti ibu atau ayahnya mengatakan “Siapa dulu dong anak ayah atau ibu.” Kalau ada kelaukan jelek keluar dari anaknya pasti engga mau ngaku. Pasti akan tuduh-menuduh. “Pasti sifat kamu itu keturan ayah atau ibumu.” Itu kata kebanyak orang tua katakana.

Baju itu bagus atau tidak, tergantung orang yang pakai.

Kalimat ini sangat menginspirasi sekali. Gue baru menyadarinya ketiak gue banyak menonton film. Gimana engga, soalnya gue banyak liat orang barat itu pakaianya STD banget, tapi masih aja keliatan keren. Coba gue yang  make. Udah, jelek banget pasti keliatannya.

Nah, bagaimana agar baju tersebut terlihat bagus di tubuh kita? Rajin-rajinlah berorah raga.

“Hubungannya?”

Hubungannya adalah dengan berolah raga badan menjadi segar. Otot menjadi kuat. Dengan otot yang menjadi kuat. Sehingga baju yang kita kenakan engga akan seperti menggunakan baju kebesaran.

“Kok kayak pemain bola aja baju kebesaran.”

“Lo tau kenapa baju bola sering dibilang baju kebesarannya?”

“Engga?”

“Karena pada masa lalu mereka menggunakan seragam tim dengan ukuran dua kali badan mereka. Kalau engga percara coba liat lagi di google.”

“Seriusan atau candaan ini?”

“Seriusan ini. Ya gue engga tau tahun berapanya. Walaupun pernah ada baju ukuran sesuai badan mereka, tapi celananya kayak Cabe-cabean.”

“ini kan lagi bahas film JOKOWI kenapa jadi kemana-mana.”

“Kan lo sendiri yang mulai.”

“Lo yang ngajak gue buat cerita.”

Joko ternyata juga coret-coret baju setelah ia lulus SMA.

Sebenarnya kalimat ini engga ada dalam film. Ini gue buat sendiri, tapi kejadiannya ada di film. Gue jadi teringat jaman SMA gue. Waktu itu gue masih menjadi anak baik-baik. Gue engga ikutan coret baju waktu lulus SMA. Gue engga ikutan jalan-jalan ke sungai yang gue lupa namanya. Gue engga ikutan pecahin kaca sekolah. Gue engga ikutan berak engga cebok. Gue engga ikutan buang sampah sembarangan.

“Banyak amat yang engga lo ikutan. Terus lo nyesal?”

“Ya.. Engga. Dikitlah. Beberapa aktifitas yang hanya gue sesali.”

“Alasan lo engga ikutan kayak mereka apa?”

“Karena waktu itu bertepatan dengan hari Jum’at dan emak gue suruh pulang setelah ujian berlangsung. Biar jangan lupa sholat jum’at.”

“…”

“???”

Banyak permintaan dan keinginan, tapi tetap harus dilayani.

Kalimat ini yang seharusnya ditanamkan untuk pemimpin dimasa yang akan datang. Ini adalah salah satu syarat untuk menjadi pemimpin yang baik. Layanin mereka dengan baik dan penuh senyum. Aduh, gue bingung jelasinnya. Lewat deh, lewat.

Bagaimana memenangkan sesuatu tanpa membuat musuh yang dikalahkan itu merasa kalah atau direndahkan.

Gimana, keren kan kalimatnya. Gue sih engga bisa ngelakuinnya kayak begini. Susah. Apalagi kalau lawan kita membuat panas hati kita. Pasti ingin sekali membalasnya. Bahkan gue ingin balasnya lebih.

Membunuh keyakinan adalah diri kita sendiri. Jagalah keyakinan sebaik-baiknya.

Nah, ini bener. Coba deh lo renungkan sendiri. Masa gue juga yang harus merenungkannya.

“Kenapa lo masukin kalo lo sendiri engga ngelakuinnya?”

“Iya juga ya. Gue udah pernah ngalaminnya Bil. Jadi ya sekalian berbagi dengan yang lainnya. Karena ini salah satu kalimat sakti dalam hidup.”

Memiliki nama sederhana untuk Selamat dunia akhirat.

Punya nama sederhana menurut gue itu bagus. Jadi gampang diingat sama orang. Kalau untuk dapat selamat dunia dan akhirat ya cuma diri kita sendiri yang mampu menolong dan mengubahnya.

Tidak perlu menungu untuk menolong orang. Apapun yang mampu kita lakukan itulah yang seharusnya kita lakukan.

Tuh kan bener. Engga perlu nunggu lo jadi kayak atau sukses untuk menolong orang. Wah, bingung gue kalau mau ngeluarin kata-kata bijak kayak Pak Mario Teguh.

“Jadi, kesimpulan dari film ini adalah…?”

“Film ini layak di tonton. Bagi yang sudah punya anak. Cobalah untuk nonton bareng anak. Sekalian bisa mengarahkan anak ke jalan yang bener sejak dini. Banyak-banyaklah belajar tentang diri sendiri. Tambal kekurangan. Pertahankan kelebihan. Karena mempertahan itu sulit daripada mencapainya makan berbagilah dengan yang lainnya.”

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s