Keluarga

Keluarga Kecil Ayah

Setiap manusia memiliki keluarga. Kira-kira nabi Adam punya keluarga juga engga ya?
“Ya enggalah Roe. Kan dia manusia pertama di bumi.”
“Eh, Nabil. Masuk darimana lo? Kan pintu gue tutup.”
“Gue masuk waktu lo belum tutup pintunya.”
“Sempaklah.”
“Lagi nulis apaan lo sekarang?”
“Ini lagi nulis masalah keluarga.”
“Emang lo udah punya keluarga?”
“Belum.”
“Terus?”
“Keluarga gue maksudnya.”
“Ya berarti lo udah berkeluarga dong.”
“Keluarga kecil ayah gue Sempak.”
“Hoo.”

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Keluarga artinya adalah 1. Ibu bapak dengan anak-anaknya; 2. Seisi rumah; 3. Anak bini; 4. (Kaum — ) Sanak saudara; 5. Kaum kerabat;

Kali ini gue akan menceritakan tentang keluarga. Khususnya keluarga kecil ayah gue. Sikat cerita gue memiliki satu ayah. Satu Ibu. Satu Kakak perempuan. Satu anak cowok yaitu gue sendiri dan satu adik perempuan.

Ayah bekerja. Ibu mengurus rumah tangga. Kakak sudah menikah dan menetap di Bali. Adik sedang kuliah dan sedang giat-giat bekerja. Gue masih kuliah dan tidak bekerja.

“Ini lagi cerita sejarah keluarga lo?”

“Bukan. Ini hanya perkenalan singkat doang.”

“Terus bahas apa di keluarga?”

“Pembahasan tulisan gue kali ini adalah ‘Kalau keluarga lo digabungin akan menghasilkan apa?’”

“Maksudnya?”

Gue garuk-garuk kepala karena bingung bagaimana menjelaskannya “Hmm…”

Gimana nulisnya ya. Gue jadi bingung sendiri euy. Maksudnya adalah ketika semua aktifitas keseharian keluarga lo disatukan bisa menghasilkan suatu usaha apa? Gue ambil contoh keluarga gue sendiri. Ayah kerja. Ibu hanya sebagai ibu rumah tangga. Kakak seorang arsitek. Gue hampir menjadi seorang sarjana teknik komputer dan adik gue calon sarjana komunikasi apalah namanya gue lupa lagi.

Nah, dari semua yang telah gue sebutkan. Lo mulai berfikir peluang usaha apa yang paling cocok? Dan gue belum terfikirkan mau buat usaha apaan di keluarga gue. Bisnis properti rumah kayaknya udah keren. Bokap modalin. Emak gue jadi manajemen keuagannya. Engga hanya itu, buat warung makan sekalian di toko properti juga. Berat juga tugasnya.

Kakak gue bersama suaminya Havid bertugas sebagai desain rumah dan bahan-bahan properti. Gue bertugas mengantarkan barang dengan penuh senyum dan sedikit mengoda pembeli. Ya engga jauh bedalah dengan adik gue Ria bertugas sebagai ahli pemasaran dengan bacotannya yang luar biasa dan senyum+tawanya bisa membius calon pembeli.

Untuk kelanjutan usahanya belum dibicarakan kembali bersama keluarga. Selesai.

“Yah, Cuma gitu doang tulisannya?” Nabil bertanya kebingungan.

“Ya sebenarnya bukan itu sih yang pengen gue bahas.”

“Jadi apa? Masih dalah konten keluarga juga?”

“Masih. Gue lanjut lagi ya.”

Cerita lainnya.

Setelah gue berberes data laptop. Gue menemukan beberapa foto jadul yang pernah gue scan. Mau lihat foto keluarga gue masih muda? Ini gue kasih lihat.

Ini foto ayah dan emak gue ketika berpacaran. Keren banget gaya ayah waktu muda. Cool yang tidak sopan gitu. Kenapa engga sopan? Karena mau di foto aja gayanya harus naikin kaki keatas sambil nutupin mulut dengan pasang mata tajam. Sok ganteng banget ayah ini.

Disebelah calon emak gue. Kenapa masih calon? Ya karena pada waktu itu ayah gue belum nikah sama emak gue. Masih pacaran biasa. Main kerumah ceweknya malam minggu. Si emak-pun malu-malu ketika mau di ambil foto berdua. Mana nutupnya pake koran segala lagi. Pacaran jaman sekarang bawa koran bisa diketawain, tapi ini klasik banget menurut gue. Keren. Pakaiannya juga masih sopan.

Kenapa? Karena ketika lo habis bahan obrolan lo bisa baca koran dulu. Biar menciptakan suatu bualan baru dan engga basi. Tunggu ada beberapa pertanyaan setelah gue melihat fotonya kembali.

  1. Kenapa emak gue udah pake cincin ya?
  2. Kenapa pacaran bawa teman segala? Apakah ini modus. Sampai sempat-sempatnya bawa tustel lagi.
  3. Kenapa bisa cantik banget emak gue dulu? I LOVE YOU. Sekarang… Ya wajarlah. Anaknya aja udah tiga. Bagaimanapun juga gue tetap cinta dan sayang dengan emak. Karena emak, sangat berarti.

Tunggu. Izinkan gue ketawa sejenak.

Selesai. Gilaa jadul dan keren. Disana ada mainan favorit gue dan kakak gue. Namanya si boy (mainan gue) dan si topi merah (mainan kakak). Sayangnya mainan gue harus diwariskan ke sodara gue yang lebih membutuhkannya ketika gue beranjak gede.

Keren banget gue waktu kecil. Mata belok, bibir sexy. Gemukan. Si Ayah masih gondrong dan berponi. Kakak masih sama bentuk bibirnya sampe udah gede. Bibir judes. Emak rambutnya masih panjang. Pake celana panjang juga gantung. Pake alas kaki lagi di dalam rumah. Buset, kayak di rumah orang kaya aja.

Kakak dan gue mulai hitam. Karena banyak main panas. Kalau adik gue mah engga dikasih keluar rumah. Ya karena masih kecil. Ini kenapa muka gue mirip Alliya? Adik gue Ria waktu kecil dikenal sebagai si putih. Ini bukan karena dia seorang siluman ular atau dia udah punya keputihan. Bukan. Karena warna kulitnya sangat berbeda dengan kita berdua.

Foto ulang tahun kakak yang ke-7. Lo liat sendirikan waktu kecilnya gue udah kece banget. Udah gede ya masih tetap kece, tapi tetap aja ada yang kurang. Kurangnya ya masih mahasiswa.

Adik gue itu pake baju gue yang udah kekecilan. Dia engga tau aja kalau itu baju gue yang dia pake. Karena kalau dia tau pasti engga mau dipake. Dari kecil aja bibirnya aja udah mulai keliatan dowernya. Ya kalau di rumah dijuluki bibir Bang Mandra.

Kakak gue udah mulai keliatan tinggi meninggalkan gue dan adik gue. Kalau untuk sekarang tingginya ya pada hampir sama semuanya. Ya kayak liat anak berlima ngumpul aja. Ulang tahun kakak gue dirayain karena disekolahnya sangat berprestasi sekali. Sehingga engga ada salahnya memberikan hadiah berupa ulang tahun boleh ngundang teman-teman.

Kalau engga salah adik gue juga pernah dirayain, tapi gue lupa kapan. Gue sebagai lelaki nomer dua paling tampan engga pernah dirayain. Ya karena dulu gue engga mau sedikit berusaha untuk belajar lebih rajin. Itu kenapa gue engga begitu bahagia di hari ulang tahun gue untuk selanjutnya apalagi sampai dirayain segala. Gue udah terlanjur benci untuk merayakan hari ulang tahun gue. Hampir masuk kedalam kategori anti mengucapkan selamat ulang tahun kepada yang lainnya. Karena gue adalah manusia ya harus ngelakuin ritual mengucapkan selamat ulang tahun untuk orang lain. Karena ketika kita membuat orang lain menjadi senang saja sudah mendapatkan pahala.

Semakin gue tambah tumbuh dewasa gue baru menyadarinya bahwa pendidikan itu sangatlah penting. Karena hanya pendidikan yang bisa merubah nasib seseorang.

Foto khasnya anak komplek PIM buat kelahrian tahun 90an atau sebelumnya. Karena komplek Arun itu pemandangannya bagus. Seperti berada di puncak. Beda jauh  dengan komplek gue. Waktu kecil aja gue udah berpakaian warna merah jambu. Yang buat lucunya adalah kenapa gambarnya satria baja hitam bajunya warna merah jambu. Itu menandakan satria baja hitam cinta damai.

Bajunya juga masih dimasukin sama celana dinaikan di atas pusat biar keliatan rapih. Sendalnya juga merek swallow. Bandingkan dengan sendal kakak gue yang lucu. Sederhana banget gue dulu ternyata orangnya. Model rambut engga jelas gaya apa. Belah pinggir bukan. Belah tengah juga bukan. Mungkin rambutnya udah kena angin sore yang sejuk saat itu, jadi arahnya udah engga beraturan lagi. Kalau kakak gue engga perlu diceritakan lagi dia makin dewasa makin kece dan populer.

Masih sama dengan foto sebelumnya. Cuma beda pasangan sekarang. Ini gue dan adik gue Ria. Lo liat sendiri. Baju gue kurang gede apalagi coba. Ini baju mungkin untuk anak tiga atau empat tingkat di atas gue. Emak gue emang suka beli baju agak besar dikit [baca: padahal besarnya banyak banget]. Kata emak gue biar tahan lama. Ya lo tau sendirilah kalau emak-emak kayak gimana belanja. Ini besarnya kebanyakan mak. Haha..

Gue dengan adik gue umurnya bedanya cuma tiga tahun. Sama kakak gue dua tahun. Noh, ada foto kakak gue dikit di kanan bawah. Adik gue ini mudah geser badannya. Maksudnya sering terkilirlah tangan atau kakinya. Kalau udah kejadian. Satu keluarga engga bisa tidur. Ributnya minta ampun.

Umur dia segini nih gue paling engga seneng. Soalnya kemana gue main selalu minta ikut. Gue sih cuma takut kalau dia main kerumah teman gue suka mengang barang-barang yang ada di rumah tersebut. Kalau pecah atau kenapa-napa kan gue juga yang disalahin. Ya karena anaknya emang lasak. Pusing gue sebagai abangnya jaganya.

Hari minggu adalah hari paling bahagia kalau kalian tinggal di komplek PIM. Gue bilang bahagia itu dulu ya. Waktu jaman gue muda. Sebut saja jaman 90an. Sekarang mah udah beda jauh.

Kalau engga jalan-jalan ke Cunda Plaza ya ke Jomblang atau ke Rancong. Jomblang dan Rancong adalah sebuah pantai engga terlalu bersih, tapi paling banyak dikunjungi ketika hari libur.

Foto ini kalau saja benar adalah ketika ayah beli tv baru dengan merek ternama. Gue engga tau kalau tv tersebut rata-rata banyak yang punya. Khususnya di perumahan komplek PIM. Ini tv paling populer pada masanya. Jadi engga salah gue sama adek foto dengan tv mahal pada masanya. Kalau engga salah foto ini diambil sama kakak gue. Soalnya kalau ayah pasti kerja. Kalau emak pasti engga diperbolehkan foto dengan pakaian minim serpeti ini. Hanya bermodalkan sempak dan singlet doang. Gue jadi berfikir kalau foto ini kayak SPG alat elektronik, tapi versi anaknya.

Ya entah kenapa gue sama adek gue itu waktu kecil suka berpakaian kayak begini sehari-harinya. Kalau main di halaman rumah juga cuma pake singlet sama sempak doang. Ketemuan sama teman juga biasanya gini juga. Kecuali ketauan sama emak gue pasti kena marah.

Dibelakang adek gue itu meja belajar kakak gue yang oke punya pada era 90an. Diebelakang gue adalah meja belajar gue dengan model sederhana. Dipojoknya ada rak buku menempel di dinding. Ini semuanya hasil karya tangan ayah. Ya karena pada waktu itu kerjaan ayah belum terlalu sibuk seperti sekarang ini.

Ini foto pasti hari minggu. Soalnya dengan pakaian seperti ini pasti mau pergi ke Cunda atau kemanalah yang penting naik mobil di hari minggu. Lo liat aja kakak gue pakai jamnya sampe segitunya. Ketinggian kak makenya. Semuanya baju harus dimasukin. Biar rapi. Sekarang, mana ada. Bebas. Udah gede. Untuk warna celana engga jauh beda. Ketiganya mengenakan warna jeans paling populer di era 90an.

Celana gue sendiri yang menggunakan ikat pinggang. Kurang rapi apalagi coba gue. Ekpresi wajah beda-beda. Gaya kakak gue gaya biasa kayak orang mau di foto. Adek gue pasang gaya pamer gigi. Walau gigi depannya pada ilang. Katanya busuk semua gigi depannya kebanyakan makan permen. Ya jadi tinggal gigi taring yang bertahan. Nah, gue gaya apa coba. Senyum kaku. Mata belok. Telingga caplang.

Kalian bisa lihat dibelakang gue itu adalah rak boneka kakak gue. Saat ini koleksi bonekanya engga tau pada kemana. Sudah pada berpindah tangan kepemilikannya.

Guenya mana? Kalian jangan salah gue yang ambil foto. Engga becanda. Kebetulan saat itu gue engga ikutan. Katanya sok sibuk dengan tugas akhirnya, tapi sampai sekarang engga kunjung selesai. Doakan saja tahun ini insya allah bisa selesai. Biar bisa lanjut dengan rencana lainnya.

Ini foto di Bali. Tempat kakak gue berserta keluarganya tinggal. Sampai sekarang gue belum dapat foto asli yang belum di-edit. Sekarang keluarga kecil ayah jadi makin banyak, tapi kalau jumlahnya segini belum bisa ikutan tauran. Karena masanya belum cukup untuk dikatakan banyak.

Keinginan gue untuk kedepannya buat keluarga adalah tiap tahun membuat acara family vacation.

Kira-kira segitu dulu gue jelasin. Kalau mau lebih detailnya langsung kontak aja masing-masing anggota keluarga gue.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s