Pembohong

Linda

Seharusnya gue menulis disini seminggu sekali. Ternyata gue gagal. Udah sebulan gue engga nulis disini. Karena mentok di kategori ‘Pembohong’. Sebenarnya bukan mentok sih. Cuma sedang tidak mendapatkan mood yang bagus untuk ng-edit cerita Linda. Dan inilah hasilnya ceritanya tanpa edit yang biasanya begitu banyak. Selamat menikmati.

Linda seorang gadis yang saat ini bekerja di kota Bandung. Saat Linda masih kecil ia sangat popular dikarenakan Linda adalah seorang penyanyi cilik hingga meranjak remaja. Suatu ketika ketenarannya mulai memudar dikarenakan suatu hal. Linda memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan dunia hiburan dan tidak akan menjadi penyanyi lagi.

Nabil adalah seorang pria yang sangat menikmati perannya sebagai mahasiswa yang masa aktifnya lebih lama dibandingkan dengan angakatannya. Untuk itu dia memutuskan mencari lowongan kerjaan paruh waktu sebagai pengantar pesanan makanan cepat saji.

Nabil dan Linda bertemu ketika Nabil tidak sengaja mengantar pesanan ke kosan Ara. Ara adalah nama seorang gadis pelangan pemesaran makanan cepat saji di toko Nabil bekerja. Ketika hal yang tidak diinginkan oleh Nabil terjadi. Nabil secara tidak sengaja mendengar percakapan Ara dan Linda dari kamar Linda.

Continue reading

Advertisements
Standard
Pembohong, SSEEMPAK

Dibalik Penulisan Pengantar Rantang

Hari demi hari belum ada perubahan sama sekali. Masih belum mendapatkan ide dan semakin hari semakin pusing dunia mahasiswa. Kurang pas rasanya kalau sudah jadi mahasiswa engga mendegarkan lagu The Panas Dalam. Liar abis men liriknya.

Muncullah sang pengganggu “Eh, Roe lagi ngapain lo?”

“Kapan lo datanganya Bil?”

“Barusan. Pas lo keluar kamar mandi gue udah datang. Terus gue kebawah bentar jajan. Pintu kamar kenapa engga lo kunci?”

“Oo.. gue tadi cuci tangan bukan ke kamar mandi Bil. Baru selesai makan ini.”

“Terus lo lagi ngerjain apaan tuh?”

“Engga ada, gue lagi baca cerita Bil. Soalnya gue lagi ditantang untuk membuat cerita yang engga kalah dengan drama Korea.”

“Jiah, bukannya gampang itu. Lo kan suka nonton drama Korea sama dorama Jepang. Setidaknya lo udah adalah sedikit referensinya.”

“Iya sih. Namanya tantangan engga ada yang gampang Bil. Harus ada sisi emosional di dalam ceritanya. Nah, sedangkan gue harus bercerita minimal itu seribu kata.”

“Cerita pendek dong.”

“Bisa dibilang begitu sih.”

“Gue ada ide nih. Gimana kalo lo buat ceritanya itu ada chapternya. Nah, biar terlihat lebih seru.”

“Hahaha. Benar juga lo Bil. Kita banyak banget ide ya, tapi selama ini engga ada yang dijalanin dengan benar. Selalu melanggar aturan yang berlaku.”

“Itu karena lo engga konsisten. Makanya jangan mengerjakan suatu perkerjaan itu dengan setengah-setengah. Jadi, lo dipujinya juga setengah-setengah nantinya.”

“Abis darimana lo Bil, bisa ngomong begitu cerdas?”

“Mana weh-lah. Dapat di jalan itu  juga kata-katanya. Udah, jadi mau nulis cerita engga lo?”

“Jadi. Mari kita lakukan bersama Bil.”

“Siap.”

“Karakter utama namanya Budi.”

“Lha kok Budi.”

“Biar cepat aja Bil. Lagian itu nama Indonesia banget kan. Masa sih kita mau contek mentah-mentah negara orang lain?”

“Bener juga lo Roe.”

“Budi adalah seorang anak rantau yang sedang menuntut ilmu di kota Bandung.”

“Rantauan mana dia?”

“Medan.”

“Jiah, Medan kenapa namanya Budi. Ucoklah.”

“Ya dia di Medan juga merantau gara-gara orang tuanya.”

“Oo..”

“Awalannya gimana ya Bil buat cerita. Bingung gue. Belum ada inspirasi. “

“Udah nulis aja dulu apa aja yang di dalam pikiran lo. Entar gue ikut mikir lagi buat ngerombak agar lebih padat merayap lagi.”

Kemudian pembembicaraan berhentilah sampai disini tanpa ada sambungan apapun.

Standard
Pembohong

Pengantar Rantang

Bagian I

Inilah kehidupan bukan di ibu kota, tetapi tetangganya ibu kota. Yap, Bandung adalah kota kreatif. Itu sih kata orang yang sudah lama tinggal disini. Kenapa harus Bandung tempat persinggahan? Uops… bukan singgahan, melainkan menuntun ilmu disini.

Sayangnya ilmu gue pas-passan sekali. Mau masuk ke universitas negri aja gue otak engga mampu. Apalagi masuk kedalam sebuah institut ternama.  Malas adalah kunci ketidakberhasilan (jangan ditiru).

Ha ha ha…

Lucu memang kalo diingat masa SMA. Banyak sekali rencana yang ingin dilakukan setelah lulus. Eh, malah perubahan rencana itu harus dilakukan diwaktu yang tidak diinginkan.

Continue reading

Standard
Pembohong

Karakter Budi dan Tantri

Namanya Budi. Mahasiswa pengantar rantang. Hidupnya lempeng kayak otaknya yang selalu tidak terbebani walau ia sebentar lagi akan punah dari kampusnnya.

Namanya Tantri. Mahasiswi baru melek. Anaknya simpel dan ceria. Gemar latihan taekwondo. Sayangnya ia punya hobi seperti anak ABG masa kini. Selalu update status berbau galau-galau gimana gitu di Facebook dan aktif dalam dunia twitter yang kebanyakan isinya ‘Folbek ya Kakak.’

Ada apa dengan mereka berdua? Dua karakter sangat berlawanan arah bisa sampai dipertemukan. Kita tunggu petualangan apa saja yang mereka bedua temukan. Akankah kedua maha a dan i ini dapat mempersatukan rantang dan ilmu bela diri? Bisakah mereka makan sepering berdua?

“Kalimat yang terakhirnya itu enggak nyambung banget Roe.”

“Udah biarin aja.”

*Cerita ini hanya fiksi belaka. Kalo ada kesamaan dalam pertokohan penulis minta maaf. Karena ya namanya juga cerita kadang bisa sama kadang juga si penulis enggak sanggup lagi nulis kelanjutannya dan membuat pembaca semakin penasaran. Satu lagi pesan penulis. Selalu doakan penulis untuk tetap eksis menulis cerita ini sampai selesai.

Standard
Pembohong

Ratnawati

Huwaaa… sudah bulan Febuari 2013 saja sekarang. Waktu, waktu mengapa engkau begitu cepat berjalan. Menurut perkiraan gue ternyata benar. Gue akan menjadi anak terakhir yang lulus kuliah. Hampir 93% angkatan gue atau biasa dikenal dengan BLACKBOXNESIA sudah pada lulus dan mempunyai kerja yang terbilang layak. Apalagi ada beberapa diantara yang sudah terbilang sukses. Gue sih merasa senang melihat teman-teman gue mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Seperti rencana awal. Gue kalau sudah lulus akan pergi ke suatu daerah yang bernama Pangalengan. Masih di Jawa Barat juga tempatnya.

Ngapain roe? 

Continue reading

Standard
Pembohong

Nicole

Suasana saat itu aku berada dalam sebuah ruangan. Tidak terlalu besar. Tidak terlalu sempit, tapi banyak sekali orang di dalam ruangan. Setelah membuka mata akhirnya aku sadar, ternyata aku sedang berada di sebuah ruangan kelas. Dimana di dalamnya sedang ada Ujian Akhir Semester (UAS).

Aku masih bengong selama tiga setengah menit. Ternyata ujian sudah berlangsung satu jam yang lalu. Kertas yang ada di atas meja bersambung dengan kursi masih kosong. Hanya ada sedikit tulisan tangan yang berisi nama, nim, mata kuliah dan tanggal sekarang. Sebenarnya ujian apa ini? Kenapa harus mendadak begini ujiannya. Aku bingung sebingungnya. Lihat kiri-kanan, teman asyik sekali menulis di lembar kertas ujian.

Aku tidak mengerti apakah mereka tau semua jawabannya atau hanya menunduk saja sambil memegang sebuah pulpen di tangannya. Tiba-tiba pengawas mengatakan “Waktunya tinggal lima menit lagi. Jangan lupa periksa kembali nama, NIM dan kode soal.”

Aku sama sekali tidak mendapatkan soalnya. Aneh yang aku rasakan. “Yaa, waktunya habis.” Kata pengawas ujiannya. Mati dah, ngumpulin lembar jawaban isinya hanya nama, nim dan masih banyak lagi yang harus aku sebutin.

Continue reading

Standard
Pembohong

Dinda

Setelah melewati jalan yang terbilang panjang. Gue harus berjalan keluar bandara sendiri tanpa teman. Musiklah yang menjadi teman gue saat itu.

Lima belas menit kemudian…

Akhirnya keluar dari bandara. Selanjutnya gue harus bertanya-tanya angkot mana bisa membawa gue sampai kosan. Ternyata gak ada. Gue harus naik angkot dua kali dari depan bandara. Pertama gue naik angkot lupa lagi tujuan mana itu. Ntar gue turun di IP (Istana Plaza). Terus gue naik angkot Caheum – Ciroyom. Dengan caatatan gue harus berjalan lagi untuk bisa berjumpa angkot Ciroyom. Ini kenapa ngomongin angkot woi~ 

Mau gak mau gue harus nunggu lama angkot Ciroyom lewat. Hujan datang, untung belum terlalu deras. Hanya gerimis. Tanpa jaket. Hanya baju bola kebesaranlah gue pakai saat itu. Gue harus menunggu sampai tiga kali lampu merah baru nonggol angkotnya. Ternyata kosong. Gue bebas milih tempat duduk. Gak perlu sopir ngatur-ngatur gue harus duduk dimana.

Continue reading

Standard