SSEEMPAK

Jangan Banyak Bicara. Perbaiki

Hari selasa bukanlah hari yang baik buat gue. Bangun kesiangan. Semua aktifitas jadi berantakan. Gue bisa bilang bulan Januari 2014 adalah bulan dimana manajemen kuangan berantakan. Tidak hanya itu saja, aktifitas yang biasanya gue lakuin jadi engga berarti sama sekali.

Tidak perlu gue sesali ini semuanya. Gue hanya perlu menikmatinya saja dengan berpikir positif. Cuih, gaya banget kata-kata lo. Bisa jadi ini adalah pengalaman yang engga terlupakan. Haha. Terlau lebay. Tidaklah gampang membuat tugas akhir. Butuh kemandirian, kemauan yang keras, tidak pantang menyerah, dan tentunya harus terus bergerak biar cepat selesai.

Continue reading

Advertisements
Standard
SSEEMPAK

Wibidisaksono

Coba lihat apa yang tuhan berikan kepada kita. Salah satunya adalah imajinasi. Untungnya imajinasi itu tidak berbayar. Untungnya juga hanya manusia saja yang bisa melakukannya. Coba lo bayangin gimana jadinya kalo binatang bisa berimajinasi. Mungkin manusia bisa tunduk dengan binatang. Ini sih hayalan gue aja.

Ngomongin tentang imajinasi, gue pernah berimajinasi gimana jadinya kalo gue diwawancara seseorang. Bagaimanakah wawancaranya?

Seperti ini…

Continue reading

Standard
SSEEMPAK

Nabil Pribadi

Langsung aja. Memperkenalkan seorang teman baru yang selalu setia menemani gue selama ini. Biasanya dia muncul di blog ini dengan tulisan berwarna merah, tapi itu dulu. Sekarang mah, sama saja warnanya. Hobinya suka nanya-nanya kalau gue lagi nulis. Langsung saja deh gue kenalin. Namanya Nabil Pribadi.

“Pagi Nabil,” basa-basi gue buat mancing suara Nabil.

“Pagi. Hallo Semuanya.” Sapa Nabil.

Engga berapa lama kemudian gue langsung nanya “Pagi ini kita mau ngapain?”

“Ngapain ya?” Jawab Nabil bingung.

“Memperkenalkan diri dulu dong ke para pembaca.”

Nabil mulai memperkanalkan dirinya. “Oke. Nama saya Nabil Pribadi. Saya satu kosan dengan Roe. Apalagi ya.”

“Tujuan lo datang kemari ngapain?”

“Tujuan? Apa ya. Ya saya mah, cuma mau ngebantuin Roe doang buat ngasih tambahan ide.”

“Terus, sekarang lo punya ide apa nih sampe-sampe gue harus ngenalin diri lo ke para pembaca.”

“Ide ya. Saya punya…”

Gue langsung potong pembicaran Nabil “Tunggu, jangan pake saya dong ngomongnya. Terlalu formal. Memangnya kita baru kenal?”

“Baiklah. Gue punya ide untuk blog ini. Idenya sih mungkin simple. Jadi tuh, kita bedua…”

“Iya.”

“Kita bedua kayak penyiar radio. Ngobrol…”

“Cuma ngobrol doang?”

“Gue kan belum selesai bicara. Gak cuma ngrobrol doang. Jadi tuh, ngobrolnya ada tema yang akan kita bahas. Misalnya kita ngebahas tentang kuliah. Yaudah, ngobrolnya ya seputar tentang perkuliahan pastinya.”

“Berarti seputaran kehidupan sehari-hari la-ya.”

“Bisa dibilang seperti itulah. Karena kita suka nonton film bisa juga nge-review film tersebut. Tentunya film yang menurut kita layak ditonton orang lain.”

“Emang yang engga layak untuk di-review kayak gimana?”

“Sama-sama tau ajalah.”

“HA HA HA… kapan rencana kita mulainya?”

“Pastinya secepatnya. Tergantung ide dan tingkat kemalasan juga.”

“HA HA HA…”

“Wah, Roe udah mulai ketawa-ketawa engga jelas nih. Udah, udah… kita akhiri aja perbincangan ini.”

“Wah, seharusnya gue dong yang nutupnya.”

“Oke. Silakan bung Roe.”

“Oke KAWAN KEMON.”

“Kok KAWAN KEMON?”

“Ya memang pembaca kita kebanyakan kawan-kawan gue.”

“Maksudnya?”

“Kawan Kemon itu yang suka baca blog ini dalam kamar mandi sambil boker gaya jongkok.”

“Tuh, udah mulai ngaco dia. Cut, cut, cut…”

“Oke. Sampai ketemu lagi di sesi ‘Tanya Jawab? Heran’. Bersama gue, Heru Wibisono dan teman gue…”

“Nabil Pribadi.”

“Jangan heran kalo lo memang engga tau.”

“Apalagilah ini anak.”

Tag-line-nya Masno.”

“Oo.. Bolelah.”

Standard
Pembohong, SSEEMPAK

Dibalik Penulisan Pengantar Rantang

Hari demi hari belum ada perubahan sama sekali. Masih belum mendapatkan ide dan semakin hari semakin pusing dunia mahasiswa. Kurang pas rasanya kalau sudah jadi mahasiswa engga mendegarkan lagu The Panas Dalam. Liar abis men liriknya.

Muncullah sang pengganggu “Eh, Roe lagi ngapain lo?”

“Kapan lo datanganya Bil?”

“Barusan. Pas lo keluar kamar mandi gue udah datang. Terus gue kebawah bentar jajan. Pintu kamar kenapa engga lo kunci?”

“Oo.. gue tadi cuci tangan bukan ke kamar mandi Bil. Baru selesai makan ini.”

“Terus lo lagi ngerjain apaan tuh?”

“Engga ada, gue lagi baca cerita Bil. Soalnya gue lagi ditantang untuk membuat cerita yang engga kalah dengan drama Korea.”

“Jiah, bukannya gampang itu. Lo kan suka nonton drama Korea sama dorama Jepang. Setidaknya lo udah adalah sedikit referensinya.”

“Iya sih. Namanya tantangan engga ada yang gampang Bil. Harus ada sisi emosional di dalam ceritanya. Nah, sedangkan gue harus bercerita minimal itu seribu kata.”

“Cerita pendek dong.”

“Bisa dibilang begitu sih.”

“Gue ada ide nih. Gimana kalo lo buat ceritanya itu ada chapternya. Nah, biar terlihat lebih seru.”

“Hahaha. Benar juga lo Bil. Kita banyak banget ide ya, tapi selama ini engga ada yang dijalanin dengan benar. Selalu melanggar aturan yang berlaku.”

“Itu karena lo engga konsisten. Makanya jangan mengerjakan suatu perkerjaan itu dengan setengah-setengah. Jadi, lo dipujinya juga setengah-setengah nantinya.”

“Abis darimana lo Bil, bisa ngomong begitu cerdas?”

“Mana weh-lah. Dapat di jalan itu  juga kata-katanya. Udah, jadi mau nulis cerita engga lo?”

“Jadi. Mari kita lakukan bersama Bil.”

“Siap.”

“Karakter utama namanya Budi.”

“Lha kok Budi.”

“Biar cepat aja Bil. Lagian itu nama Indonesia banget kan. Masa sih kita mau contek mentah-mentah negara orang lain?”

“Bener juga lo Roe.”

“Budi adalah seorang anak rantau yang sedang menuntut ilmu di kota Bandung.”

“Rantauan mana dia?”

“Medan.”

“Jiah, Medan kenapa namanya Budi. Ucoklah.”

“Ya dia di Medan juga merantau gara-gara orang tuanya.”

“Oo..”

“Awalannya gimana ya Bil buat cerita. Bingung gue. Belum ada inspirasi. “

“Udah nulis aja dulu apa aja yang di dalam pikiran lo. Entar gue ikut mikir lagi buat ngerombak agar lebih padat merayap lagi.”

Kemudian pembembicaraan berhentilah sampai disini tanpa ada sambungan apapun.

Standard