Feature, Observasi

Karakter Running Man Jika Di Indonesia

Jangan jalan. Lari. Kurang lebih seperti itu kata pembukanya. Itu sih cuma episode pertama doang dibilangnya, selebihnya gak pernah dengar lagi. Haha.

Pasti sudah banyak banget yang nonton ini acara. Running Man cukup terkenal di seluruh dunia. Ya kalau tidak masuk seluruh dunia setidaknya se-Asia juga boleh.

Sedikit saja penjelasan tentang Running Man. Formasi awal, pemain berjumlah tujuh. Tidak ada cewek. Hanya, tiap minggu selalu mendatangkan bintang tamu cewek kece.Dimana Ji Hyo terpilih menjadi pemain tetap Running Man. Wanita ini cukup tangguh dan tidak kalah saing dengan pemain cowok lainnya.

Variety show ini kerjanya lari-lari terus keluar keringat. Kalo udah capek dicabut name tag yang ada di punggung. Kalau stamina masih kuat, bisa bertahan lama sampai permainan selesai.

VJ-nya saja satu orang satu. Tau VJ kan? Kalau di Korea itu yang suka ambil gambar menggunakan alat perekam video atau biasanya sering disebut hadycam. Kalau versi yang gedenya gue gak tau namanya.

Kalau saja Running Man dibuat versi Indonesia dan gue terpilih menentukan siapa-siapa saja pemainnya. Gue bakalan milih…

Kenapa gue milih mereka? Seperti ini alasannya:

Continue reading

Advertisements
Standard
SSEEMPAK

Wibidisaksono

Coba lihat apa yang tuhan berikan kepada kita. Salah satunya adalah imajinasi. Untungnya imajinasi itu tidak berbayar. Untungnya juga hanya manusia saja yang bisa melakukannya. Coba lo bayangin gimana jadinya kalo binatang bisa berimajinasi. Mungkin manusia bisa tunduk dengan binatang. Ini sih hayalan gue aja.

Ngomongin tentang imajinasi, gue pernah berimajinasi gimana jadinya kalo gue diwawancara seseorang. Bagaimanakah wawancaranya?

Seperti ini…

Continue reading

Standard
SSEEMPAK

Nabil Pribadi

Langsung aja. Memperkenalkan seorang teman baru yang selalu setia menemani gue selama ini. Biasanya dia muncul di blog ini dengan tulisan berwarna merah, tapi itu dulu. Sekarang mah, sama saja warnanya. Hobinya suka nanya-nanya kalau gue lagi nulis. Langsung saja deh gue kenalin. Namanya Nabil Pribadi.

“Pagi Nabil,” basa-basi gue buat mancing suara Nabil.

“Pagi. Hallo Semuanya.” Sapa Nabil.

Engga berapa lama kemudian gue langsung nanya “Pagi ini kita mau ngapain?”

“Ngapain ya?” Jawab Nabil bingung.

“Memperkenalkan diri dulu dong ke para pembaca.”

Nabil mulai memperkanalkan dirinya. “Oke. Nama saya Nabil Pribadi. Saya satu kosan dengan Roe. Apalagi ya.”

“Tujuan lo datang kemari ngapain?”

“Tujuan? Apa ya. Ya saya mah, cuma mau ngebantuin Roe doang buat ngasih tambahan ide.”

“Terus, sekarang lo punya ide apa nih sampe-sampe gue harus ngenalin diri lo ke para pembaca.”

“Ide ya. Saya punya…”

Gue langsung potong pembicaran Nabil “Tunggu, jangan pake saya dong ngomongnya. Terlalu formal. Memangnya kita baru kenal?”

“Baiklah. Gue punya ide untuk blog ini. Idenya sih mungkin simple. Jadi tuh, kita bedua…”

“Iya.”

“Kita bedua kayak penyiar radio. Ngobrol…”

“Cuma ngobrol doang?”

“Gue kan belum selesai bicara. Gak cuma ngrobrol doang. Jadi tuh, ngobrolnya ada tema yang akan kita bahas. Misalnya kita ngebahas tentang kuliah. Yaudah, ngobrolnya ya seputar tentang perkuliahan pastinya.”

“Berarti seputaran kehidupan sehari-hari la-ya.”

“Bisa dibilang seperti itulah. Karena kita suka nonton film bisa juga nge-review film tersebut. Tentunya film yang menurut kita layak ditonton orang lain.”

“Emang yang engga layak untuk di-review kayak gimana?”

“Sama-sama tau ajalah.”

“HA HA HA… kapan rencana kita mulainya?”

“Pastinya secepatnya. Tergantung ide dan tingkat kemalasan juga.”

“HA HA HA…”

“Wah, Roe udah mulai ketawa-ketawa engga jelas nih. Udah, udah… kita akhiri aja perbincangan ini.”

“Wah, seharusnya gue dong yang nutupnya.”

“Oke. Silakan bung Roe.”

“Oke KAWAN KEMON.”

“Kok KAWAN KEMON?”

“Ya memang pembaca kita kebanyakan kawan-kawan gue.”

“Maksudnya?”

“Kawan Kemon itu yang suka baca blog ini dalam kamar mandi sambil boker gaya jongkok.”

“Tuh, udah mulai ngaco dia. Cut, cut, cut…”

“Oke. Sampai ketemu lagi di sesi ‘Tanya Jawab? Heran’. Bersama gue, Heru Wibisono dan teman gue…”

“Nabil Pribadi.”

“Jangan heran kalo lo memang engga tau.”

“Apalagilah ini anak.”

Tag-line-nya Masno.”

“Oo.. Bolelah.”

Standard
Pembohong, SSEEMPAK

Dibalik Penulisan Pengantar Rantang

Hari demi hari belum ada perubahan sama sekali. Masih belum mendapatkan ide dan semakin hari semakin pusing dunia mahasiswa. Kurang pas rasanya kalau sudah jadi mahasiswa engga mendegarkan lagu The Panas Dalam. Liar abis men liriknya.

Muncullah sang pengganggu “Eh, Roe lagi ngapain lo?”

“Kapan lo datanganya Bil?”

“Barusan. Pas lo keluar kamar mandi gue udah datang. Terus gue kebawah bentar jajan. Pintu kamar kenapa engga lo kunci?”

“Oo.. gue tadi cuci tangan bukan ke kamar mandi Bil. Baru selesai makan ini.”

“Terus lo lagi ngerjain apaan tuh?”

“Engga ada, gue lagi baca cerita Bil. Soalnya gue lagi ditantang untuk membuat cerita yang engga kalah dengan drama Korea.”

“Jiah, bukannya gampang itu. Lo kan suka nonton drama Korea sama dorama Jepang. Setidaknya lo udah adalah sedikit referensinya.”

“Iya sih. Namanya tantangan engga ada yang gampang Bil. Harus ada sisi emosional di dalam ceritanya. Nah, sedangkan gue harus bercerita minimal itu seribu kata.”

“Cerita pendek dong.”

“Bisa dibilang begitu sih.”

“Gue ada ide nih. Gimana kalo lo buat ceritanya itu ada chapternya. Nah, biar terlihat lebih seru.”

“Hahaha. Benar juga lo Bil. Kita banyak banget ide ya, tapi selama ini engga ada yang dijalanin dengan benar. Selalu melanggar aturan yang berlaku.”

“Itu karena lo engga konsisten. Makanya jangan mengerjakan suatu perkerjaan itu dengan setengah-setengah. Jadi, lo dipujinya juga setengah-setengah nantinya.”

“Abis darimana lo Bil, bisa ngomong begitu cerdas?”

“Mana weh-lah. Dapat di jalan itu  juga kata-katanya. Udah, jadi mau nulis cerita engga lo?”

“Jadi. Mari kita lakukan bersama Bil.”

“Siap.”

“Karakter utama namanya Budi.”

“Lha kok Budi.”

“Biar cepat aja Bil. Lagian itu nama Indonesia banget kan. Masa sih kita mau contek mentah-mentah negara orang lain?”

“Bener juga lo Roe.”

“Budi adalah seorang anak rantau yang sedang menuntut ilmu di kota Bandung.”

“Rantauan mana dia?”

“Medan.”

“Jiah, Medan kenapa namanya Budi. Ucoklah.”

“Ya dia di Medan juga merantau gara-gara orang tuanya.”

“Oo..”

“Awalannya gimana ya Bil buat cerita. Bingung gue. Belum ada inspirasi. “

“Udah nulis aja dulu apa aja yang di dalam pikiran lo. Entar gue ikut mikir lagi buat ngerombak agar lebih padat merayap lagi.”

Kemudian pembembicaraan berhentilah sampai disini tanpa ada sambungan apapun.

Standard
Pembohong

Pengantar Rantang

Bagian I

Inilah kehidupan bukan di ibu kota, tetapi tetangganya ibu kota. Yap, Bandung adalah kota kreatif. Itu sih kata orang yang sudah lama tinggal disini. Kenapa harus Bandung tempat persinggahan? Uops… bukan singgahan, melainkan menuntun ilmu disini.

Sayangnya ilmu gue pas-passan sekali. Mau masuk ke universitas negri aja gue otak engga mampu. Apalagi masuk kedalam sebuah institut ternama.  Malas adalah kunci ketidakberhasilan (jangan ditiru).

Ha ha ha…

Lucu memang kalo diingat masa SMA. Banyak sekali rencana yang ingin dilakukan setelah lulus. Eh, malah perubahan rencana itu harus dilakukan diwaktu yang tidak diinginkan.

Continue reading

Standard
Pembohong

Karakter Budi dan Tantri

Namanya Budi. Mahasiswa pengantar rantang. Hidupnya lempeng kayak otaknya yang selalu tidak terbebani walau ia sebentar lagi akan punah dari kampusnnya.

Namanya Tantri. Mahasiswi baru melek. Anaknya simpel dan ceria. Gemar latihan taekwondo. Sayangnya ia punya hobi seperti anak ABG masa kini. Selalu update status berbau galau-galau gimana gitu di Facebook dan aktif dalam dunia twitter yang kebanyakan isinya ‘Folbek ya Kakak.’

Ada apa dengan mereka berdua? Dua karakter sangat berlawanan arah bisa sampai dipertemukan. Kita tunggu petualangan apa saja yang mereka bedua temukan. Akankah kedua maha a dan i ini dapat mempersatukan rantang dan ilmu bela diri? Bisakah mereka makan sepering berdua?

“Kalimat yang terakhirnya itu enggak nyambung banget Roe.”

“Udah biarin aja.”

*Cerita ini hanya fiksi belaka. Kalo ada kesamaan dalam pertokohan penulis minta maaf. Karena ya namanya juga cerita kadang bisa sama kadang juga si penulis enggak sanggup lagi nulis kelanjutannya dan membuat pembaca semakin penasaran. Satu lagi pesan penulis. Selalu doakan penulis untuk tetap eksis menulis cerita ini sampai selesai.

Standard
Pembohong

Ratnawati

Huwaaa… sudah bulan Febuari 2013 saja sekarang. Waktu, waktu mengapa engkau begitu cepat berjalan. Menurut perkiraan gue ternyata benar. Gue akan menjadi anak terakhir yang lulus kuliah. Hampir 93% angkatan gue atau biasa dikenal dengan BLACKBOXNESIA sudah pada lulus dan mempunyai kerja yang terbilang layak. Apalagi ada beberapa diantara yang sudah terbilang sukses. Gue sih merasa senang melihat teman-teman gue mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Seperti rencana awal. Gue kalau sudah lulus akan pergi ke suatu daerah yang bernama Pangalengan. Masih di Jawa Barat juga tempatnya.

Ngapain roe? 

Continue reading

Standard